Mengenang Pahlawan Perempuanku (IBU)

"Coba lihat ini, Bu!" ucapku sambil memperlihatkan sesuatu. "Apa itu?" tanya ibu. "Eh, nakal. Hapus-hapus! Jangan bikin ibu malu!" lanjutnya mencoba meraih HP di tanganku. Aku cekikikan melihat ekspresi ibu yang lucu. Aku memang nakal. Ya, nakal! Tanpa pose yang dipersiapkan sebelumnya, hanya ekspresi ringan melihat ke bawah bayi yang dipangkunya, serta duduk di anak tangga rumah. Sedangkan bayi perempuan cantik yang dipangkunya melihat ke arah kamera, karena memang rencananya hanya gambar bayi itu yang diambil. Tetapi karena kenakalanku, kedua wajah itu terabadikan dalam sebuah foto. Dan tanpa bisa diduga dan diinginkan. Enam bulan setelah itu ibu jatuh sakit. Sebagai orang awam, kami tidak tahu pasti penyakit yang dideritanya. Yang kami tahu saat itu ibu hanya mengalami batuk biasa. Sehingga mengandalkan obat-obat yang tersedia di kios-kios terdekat. Berangsur-angsur batuk ibu tak kunjung sembuh. Batuknya sampai mempengaruhi nafsu makan dan tidur. Sehingga tubuhnya yang dulu berisi, lambat laun menjadi kurus dan tampak keriput mengalahkan usianya. Sesekali batuknya kadang menghilang, tapi kambuh lagi dalam jangka waktu yang tak lama. Ya, seperti siklus. "Coba lihat ini, Bu!" ucapku memperlihatkan foto yang sama, di tempat yang sama pula. "Fotonya diambil kapan?" tanyanya singkat. "Waktu itu, Bu. Waktu Nabila berusia enam bulan," jelasku. Sesaat ibu terdiam lesuh. Memandang baik-baik wajahnya dalam foto yang terbalut baju orange yang dipakainya, baju favoritnya. "Ternyata Ibu dulu gemuk juga, ya?" katanya. "Jangan dihapus fotonya. Simpan untuk kenang-kenangan. Siapa tahu esok Ibu sudah tiada lagi...," ucapnya pelan. Meskipun ucapannya itu sengaja aku pancing. Namun, hatiku perih mendengarnya. Mata yang sudah lama kering, kali itu terlihat basah menggenang pipi. Kemudian, aku berlalu begitu saja membiarkan ibu duduk sendirian. Entah apa yang dipikirkannya. Aku tak ingin me-reka lagi. Memasuki satu tahun diserang batuk maut itu. Kami sekeluarga membawa ibu ke RSUD Bima. Ibu dirontgen. Setelah hasilnya keluar, Dokter menuturkan bahwa, ibu menderita paru-paru akut. Bagian paru-paru sebelah kirinya sudah rusak sepenuhnya. Aku nge-down mendengar uraian dokter. Mungkin ibu lebih nge-down lagi. Bagaimana mungkin organ tubuh yang sudah rusak sepenuhnya bisa normal kembali? Itulah makna penjajahan yang sebenarnya. Dan kami harus berjuang untuk itu. Disaat pesta 17 Agustus mulai menggema, disambut gembira, serta dinaikkannya sangsaka merah putih. Kami harus menemani bendera yang sedang terbaring lemah menunggu keputusan. Apakah ada keajaiban untuk sembuh atau tidak sama sekali. Puncaknya, Selasa 20 Agustus 2013, sekitar pukul 09.00 Wita. Bendera kami tumbang menghadap Sang Khalik, dengan baju orange favoritnya. Innalilahi wainnaillahi rodziun.... Selamat Hari Kartini! (Syaidinil Aksa - Keli, 21.04.14)

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru