In Memoriam - HM. Djalaluddin

"BERPULANGNYA" SOSOK BIROKRAT DAN SANG GURU
Sesungguhnya hidup dan mati itu adalah hak prerogative Illahi robbi. Setiap makhluk wajib hukumnya akan berjumpa dengan ajal. "Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS, Al-Munafiqun, 63:11). Baginda Rasul Nabi Besar Muhammad SAW mengingatkan ummatnya : Khairukum man thaala 'umruhu wa hasuna 'amaluhu, sebaik-baik kamu adalah yang umurnya panjang dan baik amalnya.

Personifikasi tentang kriteria figur yang diberkahi umur panjang dan amal yang baik, nampaknya layak disandang oleh sosok HM. Djalaluddin SH MM, yang meninggal Senin 19 Oktober 2015 kemarin dalam usia 88 tahun. Diumurnya yang panjang (lahir di Apitaik Lombok Timur, 26 Januari 1927) almarhum telah mengajarkan berbagai ilmu,mengerjakan banyak amal ibadah dan mempersembahkan berbagai karya nyata bagi masyarakat dan daerah ini, sebagaimana testimoni putra ketiganya - M. Zainul Majdi yang kini adalah Gubernur NTB ( Dr. TGH. M. Zainul Majdi ).

Testimoni itu disampaikan pada acara peluncuran buku biografi almarhum "Serpihan Kenangan HM. Djalaluddin : BUKAN HARTA TAPI ILMU" bertepatan dengan peringatan HUT almarhum ke 87 tahun 2014 lalu di Hotel Santika Mataram. Tidak hanya testimoni putra ketiga almarhum, tokoh-tokoh senior yang merupakan teman seperjuangan dan seangkatan almarhum dalam menata pemerintahan di awal-awal pembentukan Propinsi NTB yang masih dikaruniai umur panjang, juga hadir bertestimoni seperti Mamiknda Drs. HL Azhar Mantan Wakil Gubernur NTB, Hj. Siti Maryam SH / Ruma Mari - mantan birokrat senior dan putri Sultan Bima, Drs. H. Syareh, Drs. H. Mirafuddin dan lain-lain.

Jadilah moment peluncuran buku biografi almarhum itu sebagai ajang reuni tokoh-tokoh pelaku sejarah yang saling berbagi cerita dan kenangan pahit dan manis yang telah dialami bersama. Juga cerita-cerita lucu romantika interaksi personal antar mereka yang sesekali ditimpali gelak tawa anak cucu dan junior-junior yang berkesempatan mengikuti momentum berharga tersebut. Dari untaian testimoni, tergambar betapa banyak mutiara kebaikan yang bisa dipetik dari sosok seorang HM. Djalaluddin SH. MM almarhum.

Bagi saya, sosok Bapakku, Haji Muhammad Djalaluddin, adalah teladan. Bahkan bukan hanya bagi saya namun juga bagi kami semua, lima bersaudara ( Sitti Rohmi Djalilah, M. Syamsul Lutfi, M. Zainul Majdi, M. Jamaluddin dan Sitti Suraija ). Saya meyakini, keteladanan Bapak dapat dirasakan oleh siapapun yang mengenal dan berinteraksi dengan beliau. Saya bersyukur memiliki orang tua seperti beliau. Tekun beribadah. Itulah yang tercermin dalam keseharian Bapak. Tak pernah sehari pun Bapak alpa memimpin salat berjamaah dalam keluarga, mengimami kami seisi rumah. Salat Subuh, Magrib dan Isya. Begitu sepanjang tahun, tak berubah hingga kini saat Bapak telah sepuh dan uzur. Sesibuk apapun, salat berjamaah dan wirid ba'da salat, tetap beliau pimpin, ungkap Dr. TGH. M. Zainul Majdi dalam kata pengantar biografi almarhum.

Satu kata untuk menggambarkan sosok besar seorang HM Djalaluddin menurut Naniek I. Taufan - si penulis biografi almarhum, adalah konsistensinya. Konsistensi ini tercermin tidak hanya dalam untaian cerita langsung almarhum menjalani proses menggapai sukses, penuturan putra-putri, kerabat dan kolega yang mengenal almarhum juga pengalaman empirik penulis dalam proses penulisan biografi almarhum. Pokoknya almarhum adalah sosok yang konsistensi tingkat tinggi. Konsisten dengan waktu khususnya waktu untuk beribadah. Disiplin tanpa konsistensi tidak akan berhasil sukses. Namun memilih tetap konsisten khususnya dalam hal kedisiplinan, bukanlah hal yang mudah dan tidak semua orang bisa melakukannya.

HM. Djalaluddin adalah salah seorang yang mampu mewujud kan hal itu bahkan hingga usianya sepuh. Tidak jarang saya harus "terusir" meski wawancara nya sedang mengalir karena harus berhadapan dengan tibanya waktu ibadah almarhum. Bayangkan, meski sholat maghrib jatuh sekitar pukul 18.00 an wita, almarhum sudah harus bersiap-siap dan menghentikan segala aktivitasnya untuk persiapan sholat magrib mulai pukul 17.00 wita. Kalau lah wawancara belum tuntas, ekspresinya nampak sangat resah dan itulah pertanda saya harus pamit menghentikan wawancara, ujar Naniek yang sangat sedih dan terharu ketika melayat ke rumah duka beberapa saat setelah almarhum menghembuskan nafasnya yang terakhir. Banyak orang merasa kehilangan dan terkejut ketika menerima SMS duka meninggalnya almarhum.

Lale Suryatni mantan politisi wanita NTB, yang tahun 1962-1963 adalah mahasiswi fakultas pertanian UGM sangat mengenal almarhum yang kala itu sedang menuntaskan studinya di fakultas hukum UGM. Almarhum orang yang cerdas dan sangat disiplin katanya. Adhar Hakim SH - Kepala Ombudsman RI perwakilan NTB yang rumah mertuanya berhadapan dengan kediaman almarhum di Jalan WR. Supratman 2 Mataram, sangat hormat dengan almarhum. Almarhum salah seorang dosen yang pernah mengajar saya di Fakultas Hukum Unram tahun 1986 an. Meski saklek dan sangat konsisten, namun humanis nya menonjol. Almarhum tetangga yang baik dan dengan ayah mertua saya almarhum memelihara persahabatannya dengan sangat baik, hingga kami anak-anaknya merasa bersaudara. Di mata saya, almarhum tercitrakan sebagai sosok Birokrat sejati dan sosok guru yang pantas di gugu dan ditiru, kata Adhar Hakim.

Penilaian itu terkonfirmasi ketika di acara pemakaman di pemakaman keluarga di Desa Apitaik Lombok Timur dilakukan pembacaan daftar riwayat hidup almarhum. Sekda Propinsi NTB - H. Muhammad Nur SH. MH dengan suara tertahan bercampur sedih dan penuh haru secara runut membacakan daftar riwayat hidup almarhum yang merupakan putra dari TGH. Djamaluddin Apitaik dan Ibu Hj. Maimunah. Riwayat pendidikan almarhum dimulai dari volkschool di Apitaik (1934-1937), vervolgschool di Pringgabaya (1938-1940), CVO di Praya (1942 - 1944 ), SN di Mataram ( 1944 - 1945 ), SMP di Jogjakarta ( 1956 ), S.M. Afc di Jogjakarta ( 1954 - 1957 ), Prog. Bac. PDN di UGM Jogjakarta ( 1957 - 1958 ), Sarjana Muda di UGM Jogjakarta ( 1958 - 1960 ), Sarjana Hukum UGM Jogjakarta ( 1963 ) dan Magister Managemen di Universitas Labora Jakarta ( 2000 ).

Karier di jalur birokrasi diawali dari pengangkatan sebagai pegawai bulanan di kantor Gubernur NTB (1950 ) diangkat sebagai pegawai sementara di Kantor Gubernur NTB ( 1960 ), menjabat sebagai sekretaris Kantor Sensus Penduduk NTB ( 1960 ), di percaya sebagai Kepala Biro Keuangan Kantor Gubernur NTB ( 1964 ), ditunjuk sebagai anggota BPS BPD NTB ( 1964 ), diangkat sebagai Administratur II Kantor Gubernur NTB ( 1966 ), dipercaya sebagai Presiden Direktur BPD NTB ( 1967 ), menjabat sebagai Inspektur pada Kantor Gubernur NTB ( 1971 ), mendapat amanah sebagai anggota MPR-RI ( 1971-1977 ), Ketua PUPN ( Panitia Urusan Piutang Negara, 1972 - 1978 ), Kepala Inspektorat Kantor Gubernur NTB ( 1973 ), Direktur APDN Mataram ( 1981 ) dan terakhir sebagai Kepala BKPMD NTB ( 1984 ).

Kiprahnya di dunia kependidikan diawali sebagai guru bantu SRS di Pringgabaya ( 1945 - 1947 ), guru bantu SR 6 tahun di Pringgabaya ( 1949 ), Kepala SR 6 tahun di Wanasaba ( 1950 ), Kepala SR 6 tahun di Pringgabaya ( 1952 ), merintis pendirian Akademi Padegogik NW (1971 - 1972 ), Rektor Universitas 45 Mataram (1994 - 1998) dan Rektor Universitas NTB ( 2001 - 2006 dan 2008 - 2010 ). Berbagai jabatan penting di organisasi sosial dan organisasi keagamaan juga pernah didudukinya antara lain Wakil Ketua Panitia Aksi Peladjar SMA Jogjakarta (1956), Pengurus IPL Jogjakarta (1957), Anggota Piagam Fadjar Jogjakarta (1957), Ketua PBNW (1966 -1978), Ketua Dewan Pengawas Yayasan Rumah Sakit Islam NTB ( 1976 - 2006 ) dan berbagai jabatan lain yang dilaksanakannya dengan sangat amanah.

Diiringi duka mendalam, puluhan ribu orang mensholatkan dan menghantar kan "kepulangan" almarhum dari domisili di Mataram menunju masjid raya Attaqwa Mataram selanjutnya ke Masjid Jamiq Baiturrahman Apitaik Lombok Timur untuk selanjutnya beristirahat dalam damai di pemakaman keluarga di Apitaik Lombok Timur. Almarhum adalah sosok yang sangat menghargai proses. Keberhasilan dalam meniti karier dan kehidupan adalah buah manis dari perjuangannya yang amanah dan konsisten. Berbagai raihan prestasi dan kebaikan-kebaikannya layak untuk diceritakan sebagai sumber inspirasi dan motivasi untuk berbuat kebaikan.

Namun bagaimanapun juga, manusia sebagai makhluk yang dhoif, tempat bersemayamnya berbagai kekurangan dan kelemahan tentu tidaklah ada yang sempurna. Terlepas dari berbagai kelebihan dan kekurangannya, mohon kekurangan-kekurangan almarhum dikubur dalam-dalam, pinta Dr. TGH. M. Zainul Majdi dalam kata sambutan mewakili keluarga di acara pemakaman. Selamat jalan sang birokrat, selamat jalan sang guru. Hidup sekali musti berarti, meski sudah tiada lagi, tidaklah terasa pergi, tetap hidup dalam ukiran prasasti, putra putri penerus generasi. Wassalammmm. [Oleh : H. Lalu Gita Ariadi ]

 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru